MAMUJU – Ketua Petani Milenial Sulawesi Barat (Sulbar), Muhammad Fadly Jallai, mengapresiasi pelaksanaan Festival Durian Lombang yang dinilainya menjadi momentum penting bagi penguatan durian lokal dan kolaborasi petani milenial di daerah. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Festival Durian Lombang, Senin, 19 Januari 2026.
Menurut Fadly Jallai, keterlibatan petani milenial Sulbar dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi nyata dengan para petani dan pemuda Desa Lombang dalam mengembangkan potensi pertanian lokal.
“Kami sebagai petani milenial Sulawesi Barat berkolaborasi dengan teman-teman petani milenial yang ada di Desa Lombang. Kegiatan hari ini sangat luar biasa, baik bagi petani milenial maupun bagi pemerintah desa,” ujar Fadly.
Ia menilai Festival Durian Lombang patut diapresiasi dan didukung karena menampilkan durian lokal dengan kualitas rasa yang tidak kalah dengan durian unggulan dari daerah lain.
“Durian yang ada di Lombang ini rasanya luar biasa. Ini durian lokal yang perlu kita dorong dan kembangkan,” katanya.
Fadly menjelaskan, meskipun Sulawesi Barat telah mengenal berbagai varietas durian populer seperti otong, musang king, dan durian hitam, namun durian lokal yang telah tumbuh sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu justru memiliki potensi besar yang harus dilestarikan.
“Durian yang ada dari dulu sampai sekarang, pohonnya sudah besar-besar dan ada yang berumur ratusan tahun, itu durian lokal. Ini yang perlu kita jaga dan dorong,” jelas Fadly.
Lebih lanjut, ia mendorong agar durian Lombang tidak hanya dijual dalam bentuk buah segar, tetapi juga dikembangkan melalui pengolahan atau hilirisasi produk. Menurutnya, petani milenial dan pemuda desa siap berkolaborasi untuk menghadirkan berbagai produk olahan durian bernilai tambah.
“Mudah-mudahan durian ini bisa kita olah. Jadi bukan hanya dibagikan gratis atau dikirim keluar daerah, tetapi kita bisa melahirkan produk olahan durian dari Lombang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, ke depan diharapkan durian Lombang tidak lagi hanya dipasarkan ke Makassar, melainkan dapat dikelola dan dikembangkan di daerah sendiri melalui kerja sama dengan pemerintah provinsi, khususnya dinas terkait.
“Kita ingin stop dulu di sini, kita olah di Lombang, lalu kita kirimkan ke Dinas Pertanian Provinsi dan dinas-dinas lainnya. Kalau memungkinkan, juga bisa kita kirimkan ke rumah jabatan gubernur,” tutur Fadly.
Festival Durian Lombang diharapkan menjadi awal penguatan identitas durian lokal Sulawesi Barat sekaligus mendorong peran petani milenial dalam meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani di daerah. (**)






