Poltekkes Kemenkes Mamuju Gelar Penyuluhan Tentang Pernikahan Dini Sebagai Faktor Risiko Stunting di SMAN 3 Mamuju

MAMUJU – Dosen Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan Mamuju melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) melalui penyuluhan tentang “Pernikahan Dini sebagai Faktor Risiko Stunting” di SMA Negeri 3 Mamuju. Rabu 22 Oktober 2025.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni I Made Sudarta, S.Kep., Ns., M.Kes. dan Yasirul Muntaha, S.Kep., yang memberikan edukasi kepada para siswa terkait bahaya pernikahan dini serta kaitannya dengan kasus stunting di Indonesia, khususnya di Sulawesi Barat.

Dalam penyampaiannya, para dosen menjelaskan bahwa pernikahan dini memiliki banyak dampak negatif, baik dari sisi kesehatan, psikologis, maupun sosial. Materi penyuluhan mencakup usia ideal untuk menikah, dampak pernikahan dini, dan cara mencegahnya.

Menurut UU No. 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU No. 1 Tahun 1974 tentang Pernikahan, batas minimal usia menikah bagi calon pengantin laki-laki dan perempuan adalah 21 tahun. Namun, masih banyak masyarakat yang menikah di bawah usia tersebut, terutama di daerah pedesaan.

Tingginya angka pernikahan dini dan stunting di Sulawesi Barat harus menjadi perhatian semua pihak. Karena itu, kami memberikan edukasi kepada remaja agar terhindar dari pernikahan dini. Dampaknya sangat serius, baik bagi ibu maupun anak yang dilahirkan. Salah satunya adalah risiko stunting,” ujar I Made Sudarta.

Ia menambahkan, selain faktor pendidikan, budaya, dan ekonomi, pengaruh media sosial juga menjadi pemicu perilaku remaja yang dapat mengarah pada pergaulan bebas dan seks pranikah.

Remaja perempuan yang menikah muda memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi persalinan, seperti perdarahan hebat, infeksi, anemia, hingga eklampsia. Selain itu, pernikahan dini dapat menyebabkan beban psikologis dan emosional karena anak perempuan belum siap menjadi istri maupun ibu.

Sementara bagi anak yang dilahirkan, risikonya juga besar. Mereka berpotensi mengalami berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, kekurangan gizi, hingga hambatan pertumbuhan (stunting).

Dalam penutup penyuluhan, Yasirul Muntaha berpesan agar remaja membekali diri dengan ilmu agama, mengisi waktu dengan kegiatan positif, memahami makna cinta yang sehat, serta menjaga batasan hubungan dengan lawan jenis agar terhindar dari pernikahan dini.

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari pihak sekolah dan para siswa karena dinilai memberikan wawasan baru serta kesadaran pentingnya menunda usia pernikahan demi masa depan yang lebih sehat dan berkualitas. (**)

Pos terkait